MINAT BACA PELAJAR RENDAH, BOM WAKTU DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

MINAT BACA RENDAH PARA PELAJAR, BOM WAKTU DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA

Indonesia ialah negara dengan potensi sumber daya alam yang paling besar didukung dengan populasi penduduknya yang menempati susunan 4 besar negara dengan jumlah warga terbanyak. Namun, dengan banyaknya potensi ini, Indonesia mempunyai statistik menyedihkan sebagai negara dengan minat baca rendah.

Minat Baca Masyarakat Indonesia yang Memprihatinkan

Berdasarkan keterangan dari data yang dipublikasi oleh UNESCO pada tahun 2012, Indonesia menduduki urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei oleh UNESCO. Dalam urusan minat baca, Indonesia sedang di atas peringkat Botswana, negara kurang mampu di Benua Afrika. Indonesia pun berada di bawah Thailand, negara tetangga di ASEAN. Minat baca rendah masyarakat Indonesia tergambar pada angka 0,001 yang dengan kata lain satu dari seribu orang Indonesia melulu menyelesaikan menyimak www.sekolahan.co.id satu kitab setiap tahunnya.

Minat baca rendah ini tidak seimbang dengan jumlah penduduk yang menyaksikan televisi sebesar 91,68%, memperhatikan radio 18,57%, dan menyimak majalah atau surat kabar sebesar 17,66% (menurut keterangan dari sensus BPS tahun 2012). Hal ini sedikit mencerminkan bahwa masyarakat Indonesia lebih senang dengan hiburan dikomparasikan hal-hal yang lebih edukatif seperti menyimak buku.

Pelajar Hanya Membaca Ketika Menghadapi Ujian’Minat baca rendah ini juga dicerminkan mulai menjalar di institusi-institusi edukasi formal laksana di sekolah dan perguruan tinggi. Hal ini dapat disaksikan secara kasar dengan memperhatikan kelaziman siswa ketika belajar. Kebanyakan peserta didik membuka kitab hanya pada ketika jam pelajaran dilangsungkan atau melulu saat terdapat ujian. Itu juga belum diketahui, apakah satu kitab itu berlalu dibaca atau tidak secara keseluruhan.

Hal yang sama pun tergambar di perguruan tinggi. Mahasiswa melulu membuka kitab ketika membutuhkannya guna bahan menggarap tugas atau ujian. Tidak jarang terdapat mahasiswa yang bahkan belum pernah menyelesaikan menyimak satu kitab pun sekitar kuliahnya. Meraka melulu mengandalkan internet dan referensi dari jurnal atau konten ilmiah saja.

Akibat dari Rendahnya Minat Baca

Output dari minat baca rendah di antaranya ialah minimnya referensi, rendahnya pengetahuan yang berasal dari buku, dan pola pikir yang sempit dalam menyikapi pelbagai hal. Hal di atas belum diperparah dengan kultur masyarakat Indonesia yang lebih tidak sedikit menyikapi segala urusan dengan mengedepankan emosi, bukan dengan sekian banyak pertimbangan logis.

Hal ini adalahbom waktu guna Indonesia yang sedang menghadapi arus informasi yang paling besar sesudah Reformasi tahun 1998. Kebebasan berkata dan kemerdekaan mengakses informasi paling terbuka, yang dengan kata lain masyarakat pun harus memiliki kearifan dalam menyaring informasi yang ada. Salah satunya ialah dengan mengandalkan referensi dan bacaan-bacaan buku. Lebih baik lagi bila kitab yang tidak jarang dibaca ialah buku ilmiah atau kitab yang mengekor kaidah-kaidah akademik baku. Semakin tidak sedikit bacaan buku, maka bakal semakin menyusun pola pikir dalam menyikapi pelbagai informasi yang beredar di masyarakat.

Salah satu yang patut dijadikan perhatian serius ialah minat baca rendah di kalangan pelajar. Pelajar dan mahasiswa ialah generasi yang sedang disiapkan guna menjadi penerus bangsa. Artinya ke depannya, kumpulan ini akan menempati posisi-posisi yang unggul di tengah-tengah masyarakat. Baik sebagai profesional, penentu kebijakan, pemimpin di segala tingkatan masyarakat, atau menjadi pekerja biasa. Kebiasaan malas menyimak di kalangan ini andai tidak disikapi dengan semestinya bakal menjadi kelaziman buruk sesudah mereka lulus nanti.

Di ketika mereka menempati posisi urgen sebagai penentu kepandaian atau menilai pelbagai hal, mereka bakal memutuskannya dengan referensi yang paling minim. Atau lebih parah lagi, tidak dapat menyikapi sekian banyak hal dengan pertimbangan-pertimbangan yang semestinya. Lulusan-lulusan institusi edukasi ini juga dapat gagal menyikapi informasi dan berita yang dia terima. Referensi-referensi dasar yang seharusnya menjadi pertimbangannya sebagai seorang terpelajar akan paling minim. Efeknya, akan tidak sedikit menghasilkan keputusan yang keliru, bahkan barangkali fatal guna lainnya.

Sumber : www.pelajaran.co.id/