Nutrisi Tepat untuk Si Kecil yang Alergi Susu Sapi

Alergi merupakan reaksi abnormal dari sistem kekebalan tubuh yang cukup banyak dijumpai. Gejalanya beragam, antara lain: gangguan kulit (bentol, gatal/ruam kulit, eksem), gangguan pernapasan (bersin-bersin, mengi/napas berbunyi, tenggorokan gatal), gangguan pencernaan (mual, muntah, diare, BAB berdarah).Segera konsultasikan pada dokter anak apabila Si Kecil mengalami satu atau lebih gejala tersebut.

Bagaimana mencegah & mengatasinya? JIka Si Kecil berisiko tinggi mengalami alergi, maka pencegahan yang bisa dilakukan: • Ibu menyusui ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. • Memberikan alternatif nutrisi yaitu susu protein hidrolisat parsial (P-HP). Susu pertumbuhan Morinaga Protein Hidrolisat Parsial (P-HP) dapat mengurangi risiko alergi. Ini karena bahan dasarnya berupa protein susu sapi dengan rantai protein yang lebih pendek dan mudah dicerna.

Apabila gejala alergi sudah muncul setelah Si Kecil mendapatkan susu sapi, maka untuk mengatasinya: • Hindari memberikan susu sapi dan segala jenis produk turunannya, yaitu keju, mentega, dan lainnya. • Mengganti nutrisinya dengan susu berbahan isolat protein kedelai. Susu pertumbuhan Morinaga Soya, yang diperkaya kandungan L-Metionin dan Karnitin, efektif mengatasi gejala alergi susu sapi dan mendukung tumbuh kembang optimal.

Simak juga situs merawat bayi dan parenting untuk wawasan yang lebih jauh.

Gangguan Bipolar Rentan Menggunakan Napza

Pengguna zat-zat adiktif berbahaya di Indonesia saat ini mencapai 4,9 juta orang lebih. Jumlah ini terus meningkat setiap tahun dan disinyalir ada hubungan dengan meningkatnya gangguan bipolar (GB). Penderita GB sering melakukan tindakan berisiko tinggi, salah satunya menggunakan narkoba. Hal ini terungkap dalam seminar di Hotel JW Marriot, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dalam seminar tersebut disampaikan, baik GB maupun pemakaian Napza dapat terjadi secara bersamaan.

Keduanya mempunyai persamaan faktor risiko, yaitu genetik, stresor, dan trauma. Gabungan keduanya akan memperburuk proses penyembuhan (prognosis). Menurut Wakil Ketua Sie Bipolar dan Gangguan Mood PDSKJI (Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia), Dr. dr. Nurmiati Amir, SpKJ(K), pasien dengan GB lebih sering mengalami masalah ketergantungan Napza daripada penyalahgunaan Napza. Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum PDSKJI, dr. Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ(K) menjelaskan, ”Sebagai sebuah organisasi yang profesi di bidang Kedokteran Jiwa (Psikiatri), PDSKJI senantiasa selalu menambah keilmuan semua anggotanya.

Dengan harapan para psikiater Indonesia dapat memberikan pelayan kesehatan jiwa secara profesional, efektif, dan e­ sien sehingga derajat kesehatan jiwa masyarakat terjaga dengan baik.” Sementara itu, dr. Diah Setia Utami, SpKJ, MARS, Deputi Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN), berpendapat bahwa kondisi penderita GB yang menggunakan Napza belum banyak diketahui, baik oleh dokter, apalagi oleh penegak hukum, padahal mereka memerlukan penanganan yang berbeda. “Pengguna Napza sebenarnya adalah korban, maka, pengobatannya harus benar-benar komprehensif.”